AIRMATA RASULULLAH SAW... - 24 September 2008 - Website Alumni MAN Awipari Tasikmalaya Jawa Barat
Thursday, 2010-09-09, 12:53 PM
Welcome Guest | Registration | Login

Alumni MAN Awipari Tasikmalaya JABAR

Site menu
Section categories
Teknologi [9]
Kumpulan tulisan tentang IT
Belajar Bahasa [3]
Sastra [9]
Kumpulan cerpen, cerber, puisi, syair dll
Pendidikan [12]
Info Alumni [11]
Artikel Umum [29]
Diary Alumni [5]
Our poll
Rate my site
Total of answers: 29
Statistics

Total online: 1
Guests: 1
Users: 0
Login form
Login:
Password:
Search
Calendar
«  September 2008  »
SuMoTuWeThFrSa
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
282930
Entries archive
Site friends
  • Create your own site
  • Main » 2008 » September » 24 » AIRMATA RASULULLAH SAW...
    AIRMATA RASULULLAH SAW...
    6:04 Am

    Tiba-tiba dari luar pintu terdengar seorang yang berseru mengucapkan
    salam. "Bolehkah saya masuk?" tanyanya. Tapi Fatimah tidak mengizinkannya
    masuk, "Maafkanlah, ayahku sedang demam", kata Fatimah yang membalikkan
    badan dan menutup pintu.

    Kemudian ia kembali menemani ayahnya yang ternyata sudah membuka mata dan
    bertanya pada Fatimah, "Siapakah itu wahai anakku?"
    "Tak tahulah ayahku, orang sepertinya baru sekali ini aku melihatnya,"
    tutur Fatimah lembut. Lalu, Rasulullah menatap puterinya itu dengan
    pandangan yang menggetarkan.

    Seolah-olah bahagian demi bahagian wajah anaknya itu hendak dikenang.

    "Ketahuilah, dialah yang menghapuskan kenikmatan sementara, dialah yang
    memisahkan pertemuan di dunia.
    Dialah malaikatul maut," kata Rasulullah, Fatimah pun menahan ledakkan
    tangisnya. Malaikat maut datang menghampiri, tapi Rasulullah menanyakan
    kenapa Jibril tidak ikut sama menyertainya.

    Kemudian dipanggilah Jibril yang sebelumnya sudah bersiap di atas langit
    dunia menyambut ruh kekasih Allah dan penghulu dunia ini.

    "Jibril, jelaskan apa hakku nanti di hadapan Allah?", tanya Rasululllah
    dengan suara yang amat lemah.
    "Pintu-pintu langit telah terbuka, para malaikat telah menanti ruhmu.
    "Semua syurga terbuka lebar menanti kedatanganmu, " kata Jibril.
    Tapi itu ternyata tidak membuatkan Rasulullah lega, matanya masih penuh
    kecemasan. "Engkau tidak senang mendengar khabar ini?", tanya Jibril lagi.
    "Khabarkan kepadaku bagaimana nasib umatku kelak?"
    "Jangan khawatir, wahai Rasul Allah, aku pernah mendengar Allah
    berfirman kepadaku: "Kuharamkan syurga bagi siapa saja, kecuali umat
    Muhammad telah berada di dalamnya," kata Jibril.
    Detik-detik semakin dekat, saatnya Izrail melakukan tugas. Perlahan ruh
    Rasulullah ditarik.

    Nampak seluruh tubuh Rasulullah bersimbah peluh, urat-urat lehernya
    menegang. "Jibril, betapa sakit sakaratul maut ini."
    Perlahan Rasulullah mengaduh. Fatimah terpejam, Ali yang disampingnya
    menunduk semakin dalam dan Jibril memalingkan muka.

    "Jijikkah kau melihatku, hingga kau palingkan wajahmu Jibril?"
    Tanya Rasulullah pada Malaikat pengantar wahyu itu.
    "Siapakah yang sanggup, melihat kekasih Allah direnggut ajal," kata
    Jibril.
    Sebentar kemudian terdengar Rasulullah mengaduh, karena sakit yang tidak
    tertahankan lagi.

    "Ya Allah, dahsyat nian maut ini, timpakan saja semua siksa maut ini
    kepadaku, jangan pada umatku."
    Badan Rasulullah mulai dingin, kaki dan dadanya sudah tidak bergerak lagi.
    Bibirnya bergetar seakan hendak membisikkan sesuatu, ! Ali segera
    mendekatkan telinganya. "Uushiikum bis shalati, wa maa malakat aimanuku"
    "peliharalah shalat dan peliharalah orang-orang lemah di antaramu."


    Diluar pintu tangis mulai terdengar bersahutan, sahabat saling berpelukan.
    Fatimah menutupkan tangan di wajahnya, dan Ali kembali mendekatkan
    telinganya ke bibir Rasulullah yang mulai kebiruan.

    "Ummatii,ummatii, mmatiii?" - "Umatku, umatku, umatku"
    Dan, berakhirlah hidup manusia mu lia yang memberi sinaran itu.
    Kini, mampukah kita mencintai sepertinya?
    Allahumma sholli 'ala Muhammad wa baarik wa salim 'alaihi

    Betapa cintanya Rasulullah kepada kita.

    NB:
    Kirimkan kepada sahabat-sahabat muslim lainnya agar timbul kesadaran untuk
    mengingat maut dan mencintai Allah dan RasulNya, seperti Allah dan
    Rasulnya mencintai kita.

    by ; NaZa
    Category: Pendidikan | Views: 101 | Added by: NaZa | Rating: 0.0/0 |
    Total comments: 1
    0  
    1 rosi   (2008-12-25 1:41 PM)
    sudah seharusnya kita membalas cinta Rasulullah dengan mengikuti sunnahnya...

    Name *:
    Email:
    Code *: