Di Balik Warna Kehidupan - 23 October 2008 - Website Alumni MAN Awipari Tasikmalaya Jawa Barat
Thursday, 2010-09-09, 12:34 PM
Welcome Guest | Registration | Login

Alumni MAN Awipari Tasikmalaya JABAR

Site menu
Section categories
Teknologi [9]
Kumpulan tulisan tentang IT
Belajar Bahasa [3]
Sastra [9]
Kumpulan cerpen, cerber, puisi, syair dll
Pendidikan [12]
Info Alumni [11]
Artikel Umum [29]
Diary Alumni [5]
Our poll
Rate my site
Total of answers: 29
Statistics

Total online: 1
Guests: 1
Users: 0
Login form
Login:
Password:
Search
Calendar
«  October 2008  »
SuMoTuWeThFrSa
   1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031
Entries archive
Site friends
  • Create your own site
  • Main » 2008 » October » 23 » Di Balik Warna Kehidupan
    Di Balik Warna Kehidupan
    1:42 PM
    Oleh : Ahmad Subqi el-Syah*

    Episode 1

    Subhanallah, jikalau ada manusia yang berjalan tanpa kaki, burung terbang tanpa sayap dan ikan yang berenang tanpa sirib. Itulah keajaiban dan  kekuasaan-Nya yang Maha Agung, walaupun diluar rasio. Namun jikalau seorang manusia berjalan tanpa tujuan maka itulah yang menjadi problematika kehidupan. Roda kehidupan senantiasa berputar pada porosnya. Siang dan malam bergantian sebagai penghias warna-warni kehidupan. Tetesan embun dari dedauanan menjadi elok ketika pagi tiba. Kicauan burung yang merdu menjadi indah ketika lembayung senja menjelang di sore hari, dan suara suara jangkrik dan katak yang cantik  menjadi ramai dan sayup ketika malam menyelimuti bumi dengan jubah pekatnya. Sungguh semua milik-Nya yang dirangkai sistematis dan maha kreatif.

    Pagi itu suasana pegunungan yang indah menghiasi panorama pemandangan kampung Cibeureum yang elok diselimuti kabut tipis. Cahaya gelap masih sedikit menutupi jalan-jalan. Suara ayam jantan menjadi pelengkap suasana, dan cahaya fajar menyorot indah sawah-sawah yang membentang luas. Asep bergegas siap-siap untuk berangkat menjual telur bebek yang telah disiapkan oleh ibunya tadi malam. Setelah melaksanakan sholat subuh dan tadarus Al-Qur'an, Asep siap untuk pergi ke pasar, seperti yang ia lakukan setiap harinya sebelum berangkat ke sekolah.
    "Tok..tok..umi..umi, Asep berangkat ke pasar dulu yah" ujar Asep kepada ibunya sambil mengetuk pintu perlahan. Ibunya sedang berdzikir dikamar.
    "Iya Sep! Hati-hati dijalan, jangan lupa anterin pesanan ibu Maria 20 biji"
    "Baik umi" jawab Asep sambil mengangkat kranjang telur dan menaruhnya di kepala, lalu berjalan menuju pintu.
    "Berangkat ya umi, assalamu'alaikum" sambil bersiul kecil, Asep melangkahkan kakinya keluar.
    "Iya sayang, wa'alaikum salam" jawab ibunya dengan nada lembut.
     
    Saat itu masih terasa pagi sekali, tetapi Asep harus bersegera pergi ke pasar yang cukup jauh jaraknya dari rumahnya. Perjalanan pasar sekitar 10 kilometer, dan telornyapun harus habis sebelum waktu sekolah tiba. Itu semua ia lakukan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dengan ibunya, terutama biaya sekolah. Pekerjaan ini sudah dimulai selama enam tahun, tepatnya ketika ditinggal ayahnya pergi entah kemana.

    Keadaan ini membuat Asep semakain prihatin dan giat dalam menghadapi segala hal. Karena tidak ada lagi yang diandalkan oleh Asep dan ibunya kecuali berjualan telur bebek dari bebek-bebek yang diwariskan ayahnya dulu. Diselang waktu sekolahnya setiap pagi Asep berjualan telur bebek di pasar, dan setelah pulang sekolah kembali berjualan telur asin keliling kampung hingga sore tiba. Asep selalu giat dalam belajar demi cita-citanya untuk menjadi anak yang berbakti kepada orang tua. Walaupun waktunya begitu padat ia masih bisa menyempatkan diri untuk belajar malam sebelum tidur, dan itu ia lakukan setiap malam untuk mempersiapkan pelajaran yang akan ia pelajari besok.

    Ia terus berjalan menelurusi jalan kampung yang masih sedikit gelap dan becek di guyur hujan selama dua hari. Namun itu tidak menjadi halangan buat Asep untuk pergi ke pasar dengan membawa seratus biji telur bebek di kepalanya. Sekitar 30 menit perjalanannya menuju pasar, dan ia pun sampai ketempat tujuan. Asep mulai berkeliling pasar dan menawarkan telur kepada para pedagang. Terutama kepada langgananya. Asep disukai para pelanggan karena keramahannya. Namun, berselang beberapa lama terdengar suara panggilan.
    "Sep..! Ngapain kamu jualan disini" terdengar suara kasar dibelakangnya dengan nada mengusir. Asep menoleh kebelakang dan dilihatnya seorang pemuda dengan memanggul keranjang telur memandangnya geram..
    "Oh, ma'af mas saya sudah sering berjualan disini kok"
    "Tapi ini daerahku, kamu jangan macam-macam disini kalau mau aman" bentak pemuda tadi dengan marah. Asep kaget dibuatnya, keadaan aman yang selama ini ia rasakan saat berdagang di pasar kini terusik.
    "Sebenarnya maunya mas apa yah? Kita kan sama-sama dagang mas, masalah rizki kan Allah yang mengatur"
    "Udahlah jangan banyak omong, cepet sana cari tempat lain, ini daerah tempatku dagang" pemuda itu dengan kasar membentak.
    "Tapi langganan saya sudah banyak disini, mas"
    "Alah! Kamu banyak omong" teriak pemuda tadi sambil meluncurkan pukulannya kearah pipi Asep. Buk! Pukulan pemuda tadi tepat mengenai pipinya dan Asep jatuh beserta butiran telur yang ditaruh di atas kepalanya. Mulutnya berdarah dan telurnya hampir semuanya pecah tak tersisa. Orang-orang disekitarnya hanya bengong dan terharu. Namun tidak mempunyai keberanian untuk membela. Pemuda tadi adalah preman di pasar itu, siapa berani melawan berarti mencari mati.
    "Haa..haa.., mampus kamu!" pemuda itu tertawa mengejeknya lalu pergi begitu saja. Sungguh malang nasib Asep, telur yang hendak dijualnya dan telur pesanan bu Rahmi habis tak tersisa. Sedangkan uang dari penjualan itu disuruh ibunya untuk membeli beras dan makanan hari ini. Sambil duduk lesu di tanah dengan muka berdarah dan air mata berlinang, ia mencoba mengumpulkan telut-telur yang tidak pecah dan membersihkan telur yang pecah. Hatinya terasa terhunus dan napasnya menjadi sesak ketika ia teringat ibunya yang tadi malam sudah merelakan tidur larut malam hanya untuk membersihkan telur-telur itu dan menatanya di keranjang. Air matanya semakin bercucuran ketika ia teringat kata-kata ibunya:
    "Nak, besok jual telurnya dan usahakan harus habis karena hari ini kita tidak punya persediaaan beras lagi, dan hari ini juga hari terakhir kamu bayar SPP sekolah. Umi pagi ini mau pergi ke kebun untuk mencari kayu buat masak"

    Tak ada lagi yang ada dalam pikirannya kecuali merasa bersalah dan harus mencari jalan keluar agar ibunya tidak mengetahui kejadian ini. Karena dia tidak mau melihat ibunya bersedih. Setelah selesai membereskan kotoran telur itu ia mulai berjalan tanpa tahu harus kemana. Tatapannya kosong dan pikiran melayang entah kemana. Ia sejenak berpikir seakan menunggu ilham dari Tuhan, hendak kemana ia harus mencari uang untuk membeli beras, membayar SPP dan mengganti telur pesanan ibu Marwah?

    Setelah melangkah lumayan jauh, tak sengaja ia melihat sebuah truk sedang menurunkan barang disebuah toko beras disebrang jalan. Nampaknya kali ini ia seperti mendapat pertolongan dan solusi dari Tuhan. Tanpa berfikir panjang ia menghampiri supir truk dan meminta ikut bekerja menurunkan beras itu.
    "Assalamu'alaikum pak, bolehkah saya ikut menurunkan beras ini, saya terima berapa saja bapak akan memberi saya upah" Tanyanya kepada sopir truk dengan nada belas kasihan.
    "Wa'alaikum salam, waduh dek kamu mana mungkin bisa angkat beras 50 kilo, itu kan berat sekali. Maaf ya dek, ini saya kasih uang lima ribu" jawab sopir itu yang seakan menolak permintaannya namun sambil mengulurkan uang lima ribuan kepada Asep.
    "Tapi pak.."
    "Udah ambil cepat!"
    "Bukan begitu pak, saya tidak pernah menerima uang kecuali dengan hasil kerja tangan saya sendiri pak" jawab Asep tertegun
    "Waduh dek, gimana yah!" ungkap sopir itu sambil berpikir sejenak dan garuk-garuk kepala karena bingung harus bagaimana.
    "Bejo…bejo…" terdengar suara panggilan dari dalam toko itu, sepertinya penggilan untuk sopir ini gumam Asep dalam hatinya.
    "Iya, pak sebentar" sopir itu menjawab dengan tergopoh-gopoh.
    "Sebentar ya dek, saya dipanggil bos saya, nanti kita bicara lagi" terang sopir itu sambil memegang pundak Asep
    "iya pak"
          
    Selang beberapa lama tiba-tiba sopir itu menghampirinya kembali, namun kali ini ia bersama bosnya pak Ridwan namanya. Asep merasa sedikit kikuk ketika bos sopir itu menghampirinya.
    "Assalamu'alaikum" pak Ridwan menyodorkan tangannya dan tersenyum lembut kepada Asep. Lalu memandangi wajah Asep dengan seksama, seakan-akan ada sesuatu yang di ingat dari wajah kuyu itu.
    "Wa'alailkum salam, pak" jawab Asep sambil menyambut hangat tangan pak Ridwan.
    "Saya pak Ridwan, ini sopir saya pak Bejo" terang pak Ridwan kepada Asep
    "Terima kasih pak Ridwan, pak Bejo" jawab Asep
    "Kamu tinggal dimana, nak? Kok jam segini belum berangkat sekolah malah mau kerja ngangkatin beras" Tanya pak Ridwan. Rupanya pak Bejo sudah menceritakan maksud kedatangan Asep kepada pak Ridwan.
    "Saya tinggal di Cibeureum, pak"
    "Cibeureum" sahut pak Ridwan dengan nada kaget dan mengingat-ingat. Asep dan pak Bejo jadi ikut berkerut melihat wajah pak Ridwan yang kaget dan terlihat penuh penyesalan.
    "Kenapa pak" sahut pak Bejo menyadarkan pak Ridwan. Asep terheran-heran melihat semua ini. Rupanya pak Ridwan teringat sesuatu tentang kampung itu
    "Ah, enggak. Nnggak ada apa-apa, baiklah Asep kamu ikut saya masuk ke dalam sebentar yah" pinta pak Ridwan.

    Setelah mereka masuk ke dalam, Asep menceritakan semua kejadian yang telah menimpanya pagi ini dan menceritakan tentang kehidupan bersama ibunya di rumah, dengan nada sedih sambil menangis tersengguk-sengguk. Pak Ridwan mendengarkan cerita Asep dengan seksama. Tiba-tiba ia meneteskan air mata. Lalu dipeluknya Asep erat-erat sambil menagis.
    "Asep anakku, maafkan ayah ya, nak" ucap pak Ridwan sambil memeluknya dan menangis, rupanya ayah yang selama enam tahun meninggalkan Asep adalah pak Ridwan sendiri.
    "Ayah nggak bermaksud meninggalkan kalian, tapi ayah tidak tahu kalian tinggal  dimana" sahut pak Ridwan lagi, Asep jadi bingung.

    Setelah itu diceritakanlah kepada Asep tentang kejadian sebenarnya yang menimpa pak Ridwan. Asep kelihatan bahagia sekali bisa bertemu ayahnya kembali. Dia langsung memeluk ayahnya dengan penuh rasa rindu.
    "Ayah kemana saja, Asep sama umi merindukan ayah" Asep memeluk pak Ridwan dan menangis. Rupanya kejadian itu dilihat oleh semua penjaga toko termasuk pak Bejo dan anak buahnya. Mereka pun ikut terharu melihat pertemuan seorang anak dan ayah yang selama enam tahun tidak bertatap muka.

    Dirumah, ibunya Asep merasa resah dan cemas, karena sudah pukul 9 pagi Asep belum pulang juga. Sedangkan biasanya pulang pukul 7 sudah beres dan siap berangkat ke sekolah. Namun, ibunya tak bisa berbuat apa-apa, kerena memang rumahnya jauh dari pemukiman penduduk.

    tak lama kemudian Asep dan pak Ridwan sepakat pulang kerumah untuk menemui ibunya. Karena Asep pun khawatir ibunya akan menunggunya dengan perasaan cemas. Mereka bergegas menuju rumah untuk menemui ibunya.
    "Assalamu'alaikum umi, Asep datang" Namun tak ada jawaban dari dalam rumah. Asep dan ayahnya mulai cemas, lalu mengulangi salamnya sampai beberapa kali. Namun tak juga ada sahutan dari dalam rumah. Akhirnya mereka sepakat untuk mendobrak pintu karena takut terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.

    Setelah pintu terbuka terlihat ibunya terkapar di kursi ruang tamu. Asep kaget, dan ayahnya pun terkejut. Ternyata perasaan panik membuat ibunya tak sadarkan diri.
    "Umi..umi…umi, bangun" teriak Asep sambil mengoncang-goncang tubuh ibunya.
    Ayahnya langsung mengambilkan segelas air putih. Tak lama ibunya sadar dan membuka matanya perlahan-lahan. Setelah terlihat sadar ibunya langsung memeluk Asep sambil menagis.
    "Ya Allah anakku Asep, kemana saja kamu sayang! Umi dari tadi khawatir, umi gak mau kehilangan lagi sesuatu yang berharga milik umi, kamu adalah satu-satunya yang umi punya. Umi gak mau ditinggalkan lagi oleh orang yang umi cintai"

    Sambil meneteskan air mata pak Ridwan menyaksikan istri dan anaknya sedang menangis berdekapan, seakan tak ada yang bisa memisahkan mereka. Lengkaplah suasana  itu dengan lautan air mata karena semuanya menagis.
    "Umi, sekarang ayah sudah ada bersama kita, dia kembali membawa cintanya untuk Asep dan umi" ucap Asep untuk menghibur ibunya setelah semuanya reda.
    "Sudahlah Sep, jangan menghayal lagi ayahmu tak mungkin kembali"
    "Tidak umi, sekarang ayah bener-benar ada di depan kita, coba umi lihat kebelakang" Dengan terhentak ibunya melihat sosok yang selama ini dia nanti-natikan, suaminya tercinta yang selama enam tahun meninggalkannya kini muncul didepannya tanpa ada angin dan hujan. Seperti mimpi namun kenyataan. Ibunya langsung berdiri menghampiri pak Ridwan. [ ]
    Bersambung ke episode selanjutnya….!!!!     

     *) Aktifis FLP (Foum Lingkar Pena) cabang Mesir

    Category: Sastra | Views: 172 | Added by: alumnimanawipar | Rating: 4.0/1 |
    Total comments: 71 2 »
    0  
    7 Ade ita fatimah   (2009-01-04 9:49 Am)
    Asslm akhi mna episode beriktny nich? Q tggu2 tpi gkda mlu:-).di mesir gi librn msm pns ktny ya?klw disnimah bntar lg mo uas qt slg do'akn ja ya!sll jga dri baik2ya!

    0  
    6 rosi   (2008-11-30 1:07 PM)
    qi...
    top abiz deh..angkat kisah nyata wkt qt disekolah dong...
    bagus tu...bnyk kisah yg tdk terlupakan...
    sukses ya....

    0  
    5 Subkay abdul hai datang jreng..Jreng...   (2008-11-01 8:21 Am)
    Naha ai jangkar kuku...Bet balad sim abdi jadi onta..?Gakgakgak badal sim abdi mah nabi musa sareng cleopatra atuh....Kmh nya?Sanes di arit ku tp disenso atanapi diwewelan ku jukut gakgakgak. Eh alhamdulilah tos k piramid makam2 nabi masjid2 tua dll. Sip lah minggu dpan episode ka 2 na. Wah buku sastra d dieu mah bahasana bhasa planet ku! Apan si kuku tiasa 8 bahasa kan (bhsa siraru. Simeut. Sikat. Sisiuk dll) gakgakgakgak

    0  
    4 kuku   (2008-10-31 10:33 Am)
    subqai abdul hai... siplah pokonamah ceritanya. kapan episode ke 2-nya? atau kenging korban anu di arit di dinya. eh, iraha euy banjir di mesir? ayenamah loba baladnya di dinya (onta), moal kesepian deui siga di be-oe. sumprot kangeeeeeeeeeeeeeennnnnnnnnnnnnnnn!!!!!!!!!!!!!! tos kamana wae jalan-jalan di mesir? sub-Q kirim buku sastra tp bahasana anu kaharti ku urang -biasa geuning bahasa keluarga- ulah bahasa purba!

    0  
    3 ida   (2008-10-30 5:10 PM)
    wah keren ey....Qie dah lama g ketemu, baca tulisannya j dah inget wajah orangnya....he2..ok bagus tuh, cmon guy's tunjukin merah mu!...Q yakin U punya potensi jauh lebih dari nie,,,Q jadi pengen ikut nulis...tapi gimana males ngawalinnyha tuh,beda kayak curhat di di diary.....he..kasih tips donk..
    eh usul gmn kalau da tulisan yang sama 3 orang dikasih gelas, trus kal 4 orang di kasih piring......he_he_he (ora jeals!)

    1 2 »
    Name *:
    Email:
    Code *: